KEDELAI VARIETAS UNGGUL BARU HASIL PEMULIAAN MUTASI RADIASI

http://www.warintek.ristek.go.id/nuklir/kedelai.pdf KEDELAI VARIETAS UNGGUL BARU HASIL PEMULIAAN MUTASI RADIASI Kedelai merupakan komoditas pertanian yang sangat penting, karena memiliki multi guna. Kedelai dapat dikonsumsi langsung dan dapat juga digunakan sebagai bahan baku agroindustri seperti tempe, tahu, tauco, kecap,susu kedelai dan untuk keperluan industri pakan ternak. Kebutuhan kedelai nasional Indonesia meningkat tiap tahunnya. Saat ini kebutuhan perkapita mencapai 13, 41 kg. Kebutuhan kedelai secara nasional per tahun 2004 sebanyak 2.955.000 ton sedangkan produksi dalam negeri hanya 1.878.898 ton. Produks rerata nasional 1,2 ton per hektar, sedangkan produk rerata dunia saat ini sudah mencapai 1,9 ton per hektar. Ini merupakan peluang sekaligus sebai tantangan bagi para petani Indonesia untuk meningkatkan produksi kedelai dalam negeri. Bila pengelolaan penanaman kedelai di Indonesia dilakukan secara baik dan benar ternyata produksinya masih dapat ditingkatkan. Sebagai contoh di Jawa Timur saat dilakukan lomba Insus kedelai dapat dicapai produktivitas rerata 2,8 ton per hektar, bahkan ada yang mencapai 4,3 ton per hektar. Upaya yang dapat dilakukan adalah terus membina petani yaitu dengan penggunaan bibit unggul yang memiliki umur pendek/genjah serta tahan terhadap hama dan penyakit. Selain itu harus didukung oleh irigasi yang baik, penggunaan pupuk yang tepat serta penanganan pasca panen yang baik. Pemuliaan Mutasi Kedelai Badan Tenaga Nuklir Nasional ( BATAN ) sebagai lembaga penelitian sejak tahun 1972 telah melakukan penelitian dengan teknologi mutasi radiasi untuk mendapatkan varietas baru yang unggul. Pelaksanaan penelitian di BATAN pada awalnya dimulai dengan mengiradiasi benih padi untuk mendapatkan varietas baru yang unggul dan genjah. Pemuliaan mutasi dengan teknologi radiasi tersebut hingga tahun 2005 telah menghasilkan padi unggul sebanyak 12 (dua belas) varietas. Disamping itu teknik iradiasi juga ditrapkan pada tanaman palawija khususnya untuk mendapatkan varietas unggul kedelai. Jumlah ketersediaan varietas unggul kedelai di Indonesia hingga sekarang masih terbatas. Krena itu BATAN dalam peran sertanya memperbanyak varietas unggul terus melaksanakan kegiatan penelitian untuk memecahkan masalah nasional tersebut. Pemuliaan mutasi kedelai dimulai pada tahun 1977. Sampai dengan tahun 1998 dengan memanfaatkan teknik mutasi radiasi telah dihasilkan 3 vareietas unggul kedelai yaitu Muria dan Tengger, yang dirilis pada tahun 1987 dan varietas Meratus yang dirilis pada tahun 1998. Hasil dari kegiatan litbangyasa di bidang kekacangan ini agak lambat karena penelitian lebih difokuskan pada varietas padi yang merupakan bahan pangan utama dan lebih memerlukan perhatian untuk mencukupi kebutuhan pangan nasional Pada tahun 2004 yang lalu BATAN kembali merilis varietas unggul baru kedelai setelah beberapa tahun tidak merilis varietas sejak tahun 1998. Varietas baru ini merupakan hasil persilangan dari galur mutan No. 214 dengan Galur Mutan 23-D ( dihasilkan dari iradiasi sinar Y terhadap varietas Guntur) . Varietas ini diberi nama Rajabasa dan dilepas sebagai varietas unggul melalui SK Menteri Pertanian No. 171/ KPTS/LB 240/3/2004. Dibandingkan denagn varietas sebelumnya varietas Rajabasa memiliki beberapa keunggulan tertentu, yaitu tingkat produktivitasnya mencapai 2, 05 – 3,90 ton per hektar, sedangkan varietas lainnya hanya berkisar antara 1,4-1,6 ton per hektar. Biji kedelai varietas Rajabasa berwarna kuning mengkilat dan ukuran butir lebih besar serta berat per butirnya mencapai 150 gr. Namun sisi kelemahannya adalah umur tanaman lebih panjang sekitar 6-8 hari. Dengan tersedianya berbagai varietas unggul kedelai diharapkan para petani kembali berbagai untuk menanam palawija, khususnya kedelai untuk memenuhi kebutuhan nasional yang saat ini masih jauh lebih besar dibandingkan dengan kemampuan produksinya. Dengan memanfaatkan teknik mutasi radiasi, Batan terus berupaya menciptakan varietas baru untuk memperkaya keragaman genetic yang memudahkan petani dalam memilih varietas yang disukai. Hasil varietas unggul Batan ini terus dimasyarakatkan ke berbagai daerah agar hasil litbang ini didayagunakan oleh masyarakat luas. Melalui program kerja sama yang dijalin Batan dengan Pemerintah Propinsi/ Kota dan perguruan tinggi setempat hasil litbang tersebut sudah dikenalkan di daerah yang meliputi 22 propinsi di seluruh Indonesia. Tanggapan masyarakat terhadap varietas baru hasil mutasi radiasi cukup baik. Melalui pembinaan yang intensif terhadap cara bertani dan penjelasan-penjelasan yang berkaitan dengan penggunaan teknik radiasi dalam menciptakan varietas unggul, para petani dapat mengerti. Keraguan yang dirasakan masyarakat terhadap dampak radiasi yang masih ada di dalam biji kedelai menjadi berkurang. Dengan melihat produktivitasnya yang tinggi para petani mulai menyukai untuk menanam varietas baru tersebut. Melihat animo masyarakat yang meningkat terhadap varietas tersebut maka Batan di masa mendatang akan memperluas kerja sama kemitraan dengan daerah daerah lain. Pusat Diseminasi Iptek Nuklir Gedung Perasten : Jl. Lebak Bulus Raya No. 49, Pasar Jum’at, Jakarta 12440 Kotak Pos : 4390, Jakarta 12043, Indonesia, telp : (021) 7659401, 7659402 Fax (021) 75913833, Email : pdin@batan.go.id, infonuk@jkt.bozz.com http://www.batan.go.id, http://www.infonuklir.com http://indoplasma.or.id/publikasi/buletin_pn/pdf/buletin_pn_10_2_2004_72-76_suryadi.pdf Karakterisasi Koleksi Plasma Nutfah Tomat Lokal dan Introduksi Suryadi, Luthfy, K. Yenni, dan Gunawan Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Lembang ABSTRAK Delapan belas galur koleksi plasma nutfah tomat lokal dan introduksi telah dikarakterisasi di KP Balitsa (1250 m dpl) pada MT 1999/2000 untuk melihat karakter pertumbuhan, hasil, dan komponen hasil. Percobaan ditata dalam rancangan acak kelompok dengan dua ulangan. Berdasarkan gugus rata-rata Scott-Knott diketahui bahwa tipe tumbuh, warna buah, dan jumlah cabang produktif genotipe relatif seragam, sedangkan tinggi tanaman, jumlah dan bobot buah per tanaman, diameter buah, ketebalan daging, dan umur tanaman relatif berbeda. Galur FMTT 270, FMTT 22, dan FMTT 95 mempunyai bobot buah sehat dan ketebalan daging buah yang baik di dataran tinggi Lembang, dan galur PT 4289, PT 4226, PT 4165, dan PT 4121 berumur genjah sehingga diharapkan dapat digunakan sebagai bahan pemuliaan lebih lanjut. Kata kunci: Tomat, karakterisasi, penampilan fenotipik, plasma nutfah. PENDAHULUAN Tomat merupakan tanaman sayuran penting dan telah banyak diusahakan sebagai tanaman pekarangan maupun secara komersial. Menurut Buurma (1992) luas areal pertanaman tomat di Indonesia 30.000 ha dan 15.000 ha di antaranya terdapat di pulau Jawa dengan hasil rata-rata 2,65 t/ha di dataran rendah dan 10,40 t/ha didataran tinggi. Luas areal pertanaman tomat di dataran rendah pulau Jawa 34% sedangkan di dataran tinggi 66%. Plasma nutfah tomat yang dimiliki Balitsa pada tahun 1995/96 bertambah dengan adanya 16 galur introduksi dari AVRDC Taiwan dan dua galur dari daerah Rembang. Taiwan merupakan sentra produksi sayuran dunia dan di negara ini terdapat pusat penelitian sayuran yang berada di Tainan (Asian Vegetable Research and Development, AVRDC). Fungsi introduksi tanaman antara lain adalah untuk memperoleh kultivar baru. Tanaman introduksi setelah melalui proses adaptasi dan seleksi dapat dijadikan sebagai bahan persilangan dengan kultivar yang sudah beradaptasi dengan baik. Suatu kultivar dikatakan unggul bila telah memiliki daya hasil tinggi, kualitas buah baik, tahan terhadap serangan OPT, dan mampu beradaptasi pada berbagai lingkungan tumbuh (Yusdar et al. 1992; Nurtika dan Suwandi 1992). Varietas tomat yang ada sampai saat ini pengembangannya masih bersifat nasional dan belum ada yang spesifik agroklimat. Hal ini mengakibatkan produktivitas tomat belum optimal. Komoditas tomat yang beradaptasi luas akan lebih mudah pengembangannya dibandingkan komoditas yang menghendaki lingkungan spesifik. Prospek pengembangan tomat cukup menggembirakan hingga saat ini (Duriat 1997). Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan deskripsi beberapa genotipe tomat introduksi dan lokal yang diharapkan dapat dijadikan sebagai tetua bahan persilangan dalam program pemuliaan. BAHAN DAN METODE Penelitian dilaksanakan pada bulan November 1999-Maret 2000 di Kebun Percobaan Balitsa Lembang (1250 m dpl). Bahan yang digunakan adalah 18 galur/nomor tomat lokal dan introduksi koleksi plasma nutfah Balitsa (Tabel 1). Dua hari sebelum tanam, petak percobaan diberi pupuk kandang 30 t/ha. Pupuk NPK 15 : 15 : 15 dengan takaran 1 t/ha diberikan setengah takaran sebelum tanam dan sisanya pada saat tanaman berumur 2 minggu. Percobaan menggunakan rancangan acak kelompok dengan dua ulangan. Sebagai perlakuan adalah 18 nomor/galur tomat. Tiap petak percobaan terdiri atas 20 tanaman dengan jarak tanam 70 x 50 cm. Perbedaan antarnomor diuji dengan sidik ragam dan bila terdapat perbedaan antarnomor maka dilanjutkan dengan uji beda terkecil (BNT). Pada fase pertumbuhan dilakukan pemangkasan batang tanaman untuk satu pohon dibiarkan tumbuh dua cabang, dalam satu cabang dipelihara tiga tandan dan satu cabang lainnya dipelihara dua tandan. Pemangkasan/pembatasan jumlah tandan ini bertujuan agar ukuran buah besar dan seragam. Pemangkasan dilakukan hanya pada tanaman yang mempunyai sifat indeterminate. Pemangkasan tanaman tomat dengan meninggalkan dua cabang utama dan lima tandan bunga dapat memberikan bobot buah tertinggi (Nurtika dan Zainal 1997). Pengamatan dilakukan terhadap tinggi tanaman, jumlah buah sehat, bobot buah segar per tanaman, diameter buah, ketebalan daging buah, dan umur panen tanaman. Pengamatan secara visual dilakukan terhadap karakter pertumbuhan, bentuk buah, dan warna buah masak berdasarkan descriptor list AVRDCGDRSU (2002). Pada Tabel 1 terlihat bahwa galur/nomor tomat introduksi dan lokal yang dikarakterisasi mempunyai tipe tumbuh indeterminate dan determinate, umur berbunga berkisar antara 21-30 hari setelah tanam (HST), umur panen rata-rata 56 HST, dan umur tanaman sampai panen berkisar 132-143 HST. Bentuk buah bervariasi, yaitu lonjong (oblate), persegi (square), bulat (round), bulat persegi (elongate square), bulat memanjang (deep globe), dan agak bulat (globe). Buah yang sudah masak semua nomor berwarna merah, sedangkan buah muda bervariasi dari putih merata, hijau muda, dan hijau tua. HASIL DAN PEMBAHASAN Tinggi Tanaman Tinggi tanaman tomat yang diuji dapat dibedakan ke dalam dua kelompok, kelompok pertama tinggi tanaman 46,0-48,2 cm, kelompok kedua dengan tinggi tanaman 59,7-80,0 cm (Tabel 2). Tanaman pada kelompok pertama termasuk ke dalam tipe indeterminate dan kelompok kedua tergolong determinate. Perbedaan tinggi tanaman dipengaruhi oleh faktor genetik dari masing-masing galur/nomor dan lingkungan antara lain intensitas cahaya, temperatur, dan ketersediaan unsur hara(Subhan 1989). Tanaman pada kelompok pertama tumbuh menyebar dan lebih cepat berbunga, sedangkan pada kelompok kedua tanaman tumbuh tegak. Hal ini sesuai dengan percobaan terdahulu bahwa pada umumnya jenis tomat yang berasal dari AVRDC Taiwan mempunyai tipe tumbuh bervariasi mulai dari determinate, semi determinate, hingga indeterminate (Purwati 1996). Jumlah dan Bobot Buah per Tanaman Pada Tabel 2 terlihat bahwa jumlah dan bobot buah tomat per tanaman berdasarkan analisis statistic menunjukkan perbedaan nyata antara beberapa galur tomat introduksi dan lokal. Pada galur local jumlah buah per tanaman cenderung lebih banyak dibandingkan dengan galur introduksi, namun jumlah buah busuk lebih banyak pada galur lokal sehingga kualitas buah kurang baik. Berdasarkan jumlah buah, galur lokal mempunyai harapan untuk dikembangkan sebagai bahan pemuliaan tanaman. Perbedaan jumlah buah antargalur cenderung disebabkan oleh interaksi antara genotipe dan lingkungan. Variasi lingkungan terbagi dalam dua kelompok. Pertama adalah variasi lingkungan yang dapat dikendalikan, meliputi sifat-sifat umum seperti iklim dan tipe tanah. Golongan kedua, yaitu variasi lingkungan yang sukar dikendalikan, seperti fluktuasi cuaca yang meliputi jumlah curah hujan dan temperatur. Jadi karakter-karakter yang terdapat pada tanaman secara terus menerus akan memberikan tanggapan dan penyesuaian terhadap lingkungannya, sehingga terjadi perbedaan antara yang satu dengan yang lainnya (Suryadi dan Permadi 1998). Diameter Buah Diameter buah menunjukkan perbedaan yang nyata antargalur/nomor (Tabel 3). Dalam pengujian ini, diameter buah dibagi ke dalam dua kelompok, yaitu yang mempunyai diamater 4,7-5,3 cm dan yang berdiameter lebih dari 5,4 cm. Diameter buah lebih banyak dipengaruhi oleh sifat genetik tanaman walaupun pertumbuhan dan perkembangan daun dipengaruhi oleh lingkungan, antara lain intensitas cahaya, temperatur, dan ketersediaan unsur hara, terutama unsur N dan P (Subhan 1989; Sutapradja dan Sumarni 1996). Ketebalan Daging Buah Ketebalan daging buah berbeda nyata antara galur/nomor yang diuji. Galur R-1644 dan R-1646 mempunyai ketebalan daging buah 2,64 mm dan 2,96 mm sedangkan galur FMTT-301 mempunyai buah dengan ketebalan daging 3,64 mm. Galur lainnya mempunyai ketebalan daging buah berkisar antara 3,94-4,68 mm. Galur Terpilih Berdasarkan hasil seleksi terhadap karakter tinggi tanaman, bobot buah per tanaman, jumlah buah per tanaman, dan cabang produktif maka terpilih empat galur tomat, yaitu PT 3172, PT 4121 F, FMTT-103, dan FMTT-95 dengan kriteria sebagai berikut: 1. Tipe tumbuh tegak atau menyebar. 2. Ukuran buah besar. 3. Penampilan buah menarik. 4. Tahan simpan. 5. Toleran terhadap organisme pengganggu tanaman. 6. Daging buah tebal (±4 mm). 7. Hasil tinggi. KESIMPULAN Terdapat 18 galur/nomor plasma nutfah tomat yang telah terdeskripsi, empat di antaranya dapat digunakan sebagai bahan pemuliaan. ejournal.unud.ac.id/abstrak/(8)%20soca-rachmat%20dkk-pht(1).pdf Implementasi PHT SL-PHT (Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu)diakui petani sangat bermanfaat dalam usahatani lada. Sekitar 70 % dari petani responden menyatakan merasa meningkat pengetahuannya setelah mengikuti SLPHT. Namun demikian di dalam implementasinya petani melakukan PHT secara terpilih, artinya tidak semua komponen PHT diterapkan. Faktor-faktor yang mempengaruhi penerapan PHT oleh petani di Babel maupun di Lampung terdiri dari faktor internal dan eksternal. Faktor-faktor internal yang teridentifikasi mempengaruhi petani dalam penerapan PHT adalah: a. Status penguasaan lahan usahatani; b. Rataan luas pemilikan lahan usahatani; c. Aksesibilitas lokasi usahatani ke pusat ekonomi; d. Akses Petani ke pasar input e. Akses petani ke pasar output; f. Motivasi usahatani g. Pengalaman Berusahatani. h. Akses Petani ke sumber inovasi dan informasi; i. Akses Petani ke Sumber Modal; j. Persepsi Petani terhadap PHT; k. Dinamika kelompok tani; l. Kemampuan ekonomi petani dan m. Partisipasi petani Sementara itu lingkungan eksternal yang mempengaruhi petani dalam menerapkan PHT terdiri dari faktor-faktor berikut: a. Keberadaan Lembaga permodalan ; b. Dukungan infrastruktur; c. Kelembagaan pasar input; d. Jejaring kerja kelompok tani; e. Kebijaksanaan Pemerintah; f. Perkembangan harga lada; g. Kelembagaan pasar output; h. Kontinuitas bimbingan; i. Kerjasama petani dengan sumber inovasi dan j. Kerjasama petani dengan perusahaan mitra. http://www.litbang.deptan.go.id/artikel/one/142/pdf/Mengatasi%20Kekurangan%20Produksi%20Padi%20Melalui%20PHT.pdf Pengembangan PHT dalam pertanian berkelanjutan didasari oleh resisitensi hama terhadap insektisida sebagai dampak dari penerapan pertanian modern yang terbukti telah menurunkan kualitas sumberdaya alam. Di lain pihak, pengembangan pertanian berkelanjutan juga didasari oleh munculnya gerakan pertanian organik. Dalam proses produksinya, PHT dalam pertanian berkelanjutan, terus harus memperhatikan keadilan terhadap masyarakat, khususnya petani produsen dan konsumer. Oleh karena itu perlu diterapkan ekolabel yang memberi penghargaan (rewarding) kepada petani yang telah berproduksi dengan benar. Juga perlu memperhatikan konsumen yang turut berkontribusi dalam pengembangan pertanian yang baik memberi peluang kepada petani untuk membedakan sendiri pasar/tempat penjualan, dan bahkan bila perlu ada kontrak antara petani produsen dengan retailer. Penerapan ekolabel sangat dimungkinkan bila didasari oleh kesepakatan pemberian penghargaan kepada pihak yang terlibat, misalnya insentif bagi produsen yang berjasa dalam praktek pertanian yang baik. Di pihak yang, konsumer dapat menggunakan kekuatan daya belinya (purchasing power) dalam mempengaruhi praktek produsen, dan pengembang (developer) dapat pula menyusun suatu agenda ekolabel antara produsen dan konsumen. Mereka tentu diharapkan mengerti dan mampu mempraktekan konsep PHT dalam pertanian berkelanjutan setelah mendengar, melihat, dan merasakan betapa pentingnya kehidupan di masa mendatang. Alternatif Kebijakan Implementasi PHT Meski PHT memberikan peluang bagi peningkatan produksi, penerapan GAP dan pertanian berkelanjutan, tetapi PHT juga mempunyai dampat yang besar terhadap produksi pertanian manakala dalam pelaksanaannya ada kekeliruan, seperti penggunaan pestisida yang sangat toksik, residu di atas BMR (batas maksimum residu), terjadi pencemaran lingkungan, yang pada akhirnya merusak kesehatan masyarakat. Agar dampak negatif tidak muncul, maka alternatif kebijakan implementasi PHT berikut ini perlu diaplikasikan untuk mencapai praktek pertanian yang baik menuju pertanian berkelanjutan. Kebijakan teknis tersebut yakni: 1) Pemilihan Varietas Tahan dan Hemat Energi; 2) Penerapan Teknologi Pengendalian Hama secara Hayati; 3) Pergiliran Varietas Antar Musim; 4) Penerapan Teknologi Pengendalian Hama Padi dengan Sistem Intergrasi Palawija pada Pertanaman Padi (SIPALAPA); 5) Perbaikan Teknik Budidaya; 6) Pengendalian Hama Berdasarkan Manipulasi Musuh Alami; dan 7) Penerapan teknologi Pengendalian Hama Berdasarkan Berdasarkan Ambang Ekonomi; serta 8) Minimalisasi Residu Pestisida. latiefabadi.googlepages.com/PHTPertanianBerkelanjutan.ppt • Awalnya, tahun 1980, istilah “sustainable agriculture” atau diterjemahkan menjadi ‘pertanian berkelanjutan’ digunakan untuk menggambarkan suatu sistem pertanian alternatif berdasarkan pada konservasi sumberdaya dan kualitas kehidupan di pedesaan. • Sistem pertanian berkelanjutan ditujukan untuk mengurangi kerusakan lingkungan, mempertahankan produktivitas pertanian, meningkatkan pendapatan petani dan meningkatkan stabilitas dan kualitas kehidupan masyarakat di pedesaan. • Tiga indikator besar yang dapat dilihat: – Lingkungannya lestari – Ekonominya meningkat (sejahtera) – Secara sosial diterima oleh masyarakat petani. PHT DAN SISTEM PERTANIAN BERKELANJUTAN • PHT adalah suatu cara pendekatan atau cara berfikir tentang pengendalian OPT yang didasarkan pada pertimbangan ekologi dan efisiensi ekonomi dalam rangka pengelolaan agroekosistem yang berwawasan lingkungan yang terlanjutkan. • Sasaran PHT adalah : 1) produktivitas pertanian yang mantap dan tinggi, 2) penghasilan dan kesejahteraan petani meningkat, 3) populasi OPT dan kerusakan tanaman karena serangannya tetap berada pa¬da aras yang secara ekonomis tidak merugikan, dan 4) pengurangan risiko pencemaran lingkungan akibat penggunaan pestisida. • Strategi PHT adalah memadukan secara kompatibel semua teknik atau metoda pengendalian OPT didasarkan pada asas ekologi dan ekonomi. • à PHT adalah sistem pengendalian OPT yang merupakan bagian dari sistem pertanian berkelanjutan KESIMPULAN • Penerapan Pengelolaan Hama Terpadu (PHT) dalam pengendalian penyakit tumbuhan merupakan bagian dari kegiatan dalam sistem pertanian berkelanjutan. • Permasalahan yang dihadapi petani dalam penerapan PHT untuk pengendalian penyakit tumbuhan masih banyak, sehingga perlu uluran tangan pemerintah lebih besar lagi untuk menyelesaikan berbagai masalah tersebut. • Perlu dibangun sistem jaringan informasi berbasis web di pedesaan agar petani menjadi lebih mampu dalam menerapkan PHT, yang pada akhirnya akan tercapai pertanian berkelanjutan yang diharapkan bersama.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s