FUNGSI MATAHARI BAGI TULANG

Peran vitamin D pada peningkatan efisiensi penyerapan kalsium telah berlangsung jutaan tahun yang lalu. Kalsium adalah komponen utama kerangka vertebrata (makhluk bertulang belakang) tingkat rendah yang hidup di lautan. Perkembangan kerangka vertebrata memberi mereka peluang-melalui proses evolusi-untuk pindah ke darat. Untuk dapat bertahan hidup di daratan, di mana kalsium terbatas, mereka mengembangkan metode yang efisien untuk menggunakan kalsium. Vitamin D bertanggung jawab mengemban tugas tersebut.
Sampai dengan era 1980-an, vitamin D lebih dikenal karena perannya pada proses pembentukan tulang dan gigi, termasuk mencegah pengeroposan tulang. Namun, memasuki abad ini, kita memperoleh berita gembira tentang berbagai peran vitamin D untuk kesehatan, selain peran yang selama ini dikenal. Berbagai penelitian epidemiologis telah membuktikan bahwa paparan terhadap sinar matahari, yang meningkatkan produksi vitamin D di kulit, berperan pada pencegahan penyakit kronis seperti kanker, diabetes tipe 1, dan hipertensi.
METABOLISME
Ada dua sumber vitamin D untuk digunakan tubuh. Pertama, bahan baku vitamin D (vitamin D3) dari makanan, setelah diserap di usus, dibawa ke hati. Di hati vitamin D3 diubah menjadi 25-hidroksivitamin D3 25 (OH)D3. Selanjutnya, 25 (OH) D3 memasuki ginjal. Di dalam ginjal, vitamin ini diubah menjadi vitamin D yang aktif: 1,25-dihidroksivitamin D3 [1,25(OH)D3].
Sumber vitamin D yang lain adalah provitamin D3 yang terdapat di kulit. Provitamin D3 (7-dehidrokolesterol) adalah produk antara dari sintesa kolesterol dan ergosterol. Provitamin D3 diproduksi melimpah di kulit hewan vertebrata, termasuk manusia. Ketika kulit terpapar dengan sinar matahari, provitamin D3 pada sel epidermis dan dermis kulit menyerap radiasi sinar ultraviolet. Radiasi sinar ultraviolet kemudian mengubah provitamin D3 menjadi previtamin D3. Dikarenakan previtamin D3 tidak tahan panas, pemanasan sedikit saja akan mengubahnya menjadi vitamin D3. Selanjutnya, vitamin D3 memasuki hati dan ginjal untuk diubah menjadi vitamin D yang aktif.
EFEK DEFISIENSI
Telah lama diketahui bahwa masyarakat yang hidup di belahan bumi pada lintang (kutub) yang lebih tinggi menghadapi risiko yang lebih besar menderita penyakit kronis seperti kanker dan hipertensi. Pada tahun 1941, Journal of Cancer Research memublikasikan hasil pengamatan yang menunjukkan bahwa masyarakat yang tinggal di Massachusetts dan New Hampshire (lintang tinggi) memiliki risiko lebih tinggi meninggal karena kanker daripada risiko pada masyarakat yang tinggal di Georgia dan South Carolina (lintang rendah). Selanjutnya, pada tahun 1979 giliran Journal of Hypertension yang mengungkapkan bahwa masyarakat yang tinggal di lintang yang lebih tinggi, baik di Eropa maupun di Amerika, memiliki risiko yang lebih tinggi menderita hipertensi.
Hingga menjelang tahun 1990, para peneliti masih belum memahami sepenuhnya mengapa hal tersebut bisa terjadi. Berbagai penelitian yang dilakukan dekade tahun 1990-an memberi jawaban pada pertanyaan ini. Holick, dari seksi Endokrinologi, Diabetes, dan Gizi, Fakultas Kedokteran Universitas Boston, telah merangkum beberapa hasil penelitian berkaitan dengan “peran baru” vitamin D untuk kesehatan. Melalui publikasinya pada American Journal of Clinical Nutrition edisi Maret 2004, Holick menyatakan, vitamin D penting untuk pencegahan kanker, diabetes tipe 1, dan hipertensi.
MEKANISME
Peran vitamin D pada pencegahan berbagai penyakit kronis mulai terungkap ketika para ahli menemukan bahwa hampir semua jaringan dan sel tubuh, termasuk jantung, lambung, pankreas, otak, kulit, dan limposit, memiliki reseptor-sisi penerima-untuk vitamin D. Ini menunjukkan bahwa vitamin D dibutuhkan oleh jaringan itu. Salah satu temuan penting adalah kemampuan vitamin D untuk menurunkan proliferasi (pelipatgandaan secara cepat) sel kanker. Berbagai sel kanker; seperti kanker kolon, kanker payudara, kanker paru, dan kanker prostat; memiliki perangkat enzimatis untuk mengubah vitamin D yang tidak aktif menjadi vitamin aktif. Selanjutnya vitamin D berperan mengatur pertumbuhan sel dan menurunkan aktivitas penggandaannya.
Oleh karena itu, sangat beralasan bahwa orang yang tinggal di daerah pada lintang yang lebih tinggi memiliki risiko menderita kanker lebih besar. Mereka berisiko lebih besar kekurangan vitamin D karena paparan sinar matahari (sinar ultraviolet) lebih rendah.
Reseptor vitamin D juga hadir pada limposit T dan B serta makrofag aktif (komponen sistem kekebalan tubuh). Penyakit autoimmune-penyakit akibat gangguan pada pembentukan antibodi-yang paling lazim, seperti diabetes tipe 1, telah berhasil dicegah pada hewan coba (yang dibuat sangat rentan terhadap penyakit ini), dengan pemberian vitamin D3. Risiko mengalami diabetes tipe 1 pada tikus coba menurun 80 persen. Penelitian pada anak juga menunjukkan hal yang taat asas. Konsumsi vitamin D sebanyak 2000 IU pada usia 1 tahun mampu menurunkan risiko diabetes tipe 1 sebesar 80 persen.
Penelitian pada penderita hipertensi menunjukkan bahwa mereka yang terpapar dengan sinar ultraviolet selama tiga bulan mengalami peningkatan konsentrasi vitamin D aktif pada aliran darahnya sebesar 180 persen. Akibatnya, terjadi penurunan tekanan darah diastolik dan sistolik, masing-masing sebesar 6 mmHg. Angka ini setara dengan penurunan yang diharapkan jika mengonsumsi obat penurun tekanan darah. Vitamin D efektif mengatur angiotensin (suatu protein yang bertanggung jawab pada peningkatan tekanan darah) dan renin (enzim yang mengatalisis pembentukannya).
Walaupun tinggal di daerah tropis, di mana paparan sinar matahari berlangsung sepanjang tahun, kita tetap berisiko mengalami kekurangan vitamin D. Kegiatan yang sebagian besar waktunya berlangsung di ruangan tertutup, misalnya di gedung perkantoran atau pabrik yang tidak mendapat sinar matahari langsung, merupakan salah satu penyebabnya. Kebiasaan orang menggunakan pakaian yang menutupi sebagian besar tubuhnya juga berperan menghambat masuknya radiasi sinar ultraviolet ke kulit. Akibatnya adalah berkurangnya sintesa vitamin D di kulit.
Dikarenakan secara alamiah makanan yang kita konsumsi sehari-hari, kecuali produk makanan yang diperkaya vitamin D, mengandung sedikit vitamin D, maka sinar matahari merupakan sumber vitamin D yang andal dan murah. Oleh karena itu, menjemur badan, terutama tangan, kaki, dan muka, di bawah sinar matahari langsung kira-kira sampai menjelang kulit berwarna kemerahan tidak hanya dapat memenuhi kebutuhan vitamin D (200 IU/hari atau setara dengan dua gelas susu yang diperkaya vitamin D), tetapi juga menjamin cadangannya di dalam tubuh. Ada baiknya Anda sesekali meluangkan waktu untuk berjalan di bawah terpaan sinar matahari. Hal itu tidak hanya baik untuk jantung Anda, tetapi juga untuk pencegahan berbagai jenis penyakit. Bukankah mencegah adalah lebih baik daripada mengobati?

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s